Ketua DPD PSI Kota Bandung Yoel Yosephat (Kiri) Ketua Komite Solideritas Perlindungan Perempuan dan Anak (KSPPA) DPP PSI Karen Pooroe (Foto. HNY / BDGNEWS.BIZ)

BDGNEWS.BIZ –  Bandung,  Menyikapi hasil vonis terhadap Harry Wirawan pemerkosa belasan santriwati di Pengadilan Negeri Bandung, Partai Solidaritas Indonesia (PSI)  menilai belum adanya rasa keadilan bagi para korban,  terutama masalah restitusi.

Ketua DPD PSI Kota Bandung Yoel Yosephat menyatakan, PSI yang sejak awal mengawal kasus tersebut menyatakan, dana restitusi yang dinilai rendah. Apalagi  restitusi bagi korban,  kini dibebankan kepada negara, dalam hal ini Kementrian PPPA sebesar Rp.Rp331.527.186.

Selain itu juga menurut dia, pemulihan dan masa depan korban adalah hal yang penting. Sehingga keadilan bagi korban tidak hanya selesai dengan vonis terhadap terdakwa.

“Kami merasa hal ini tidak sepadan dengan beban yang ditanggung seumur hidup oleh korban,”ucapnya kepada awak media di kantor DPW PSI Jawa Barat, Selasa (15/2/2022).

Anggota DPRD Kota Bandung ini juga menambahkan, dengan jumlah dana restitusi sekecil itu, apakah dapat menanggung hidup   korban. Apalagi beberapa orang korban mempunyai anak dari aksi bejad Harry Wirawan.

“Uang sekecil itu apakah adil ?. Kalau kayak gitu mah, ibaratnya sangat murah sekali, terhadap masa depan. Ini, mempengaruhi masa depan bangsa Indonesia. 13 korban ini harusnya mereka menjadi seseorang, harusnya mereka menjadi harapan bangsa, dan dihancurkan,”tegas Yoel.

Hal senada juga dikatakan Ketua Komite Solidaritas Perlindungan Perempuan dan Anak (KSPPA) DPP PSI, Karen Pooroe.

Menurut dia, keadilan restitusi tidak berimbang, dengan yang telah dialami para korban.

“Mereka harus menanggung beban itu seumur hidup mereka. Dan orang tua meraka menjadi secondery of victim. Jadi kami berharap sistem penegakan hukum, restetusi para korban ini lebih diperhatikan lagi oleh negara,”ucap dia.

Dikatakannya juga,  para korban merupakan keluarga tidak mampu dan tinggal di wilayah terpencil. Menurutnya KSPPA yang sejak awal melakukan pendampingan sebelum kasus tersebut mencuat, telah menyambangi para korban ke tempat tinggalnya. Perlu perjuangan keras yang dilakukan tim KSPPA PSI, untuk sampai ke rumah para korban.

“Korban-korban ini adalah dari masyarakat yang sangat rentan, masyarakat yang sulit ekonominya. Bahkan ada salah satu korban yang akhirnya anaknya minum air gula merah. Dia tinggal dengan kakeknya yang sudah tua, dengan upah Rp.15 ribu. Sedangkan untuk membeli susu saja butuh dana untuk ojek aja Rp.50 ribu, untuk satu kali pergi, bulak balik Rp.100 ribu, belum lagi susunya berapa. Bayangkan kesengsaraan mereka,”ungkap Karen.

“Apakah restitusi ini bakal memenuhi kebutuhan hidup mereka? Saya rasa belum,”tegas dia.

Untuk itu ucap Karen, PSI tidak akan berhenti dan bakal mengambil langkah-langkah untuk mewujudkan rasa keadilan bagi belasan santriwati korban Harry Wirawan.

Seperti diketahui, Pengadilan Negeri Bandung menjatuhkan vonis pidana seumur hidup bagi pemerkosa 13 santriwati, Harry Wirawan. Selain itu juga, hakim memutuskan restitusi atau ganti rugi korban yang sebelumnya dituntut kepada Harry Wirawan, dibebankan kepada negara dalam hal ini Kementrian PPPA. (HNY)